Refusing to Be Dim in the Digital Era: Revitalizing Bonding and Bridging Social Capital Through Kite Games in Lampung

Authors

  • Chintia Eka Rahmadani Metro State Islamic Religious Institute, Lampung
  • Karsiwan Metro State Islamic Religious Institute, Lampung

DOI:

https://doi.org/10.30762/asketik.v10i1.2170

Keywords:

Examining Social Values, Traditional Kite Games

Abstract

This study aims to examine the social values contained in the traditional kite game in Lampung using the framework of Robert D. Putnam's social capital theory. Kite games not only serve as folk entertainment, but also as a means of building social character, strengthening solidarity, and preserving local culture. Through a qualitative approach with phenomenological methods and case studies, this study explores the experiences, interactions, and meanings that emerge in the practice of making, flying, and kite racing. The results of the study show that this game contains the values of cooperation, sportsmanship, skills, creativity, and social harmony that are internalized in people's lives. In addition, the kite tradition acts as a medium of expression of Lampung's cultural identity, as well as building social capital bonds through internal community ties and bridging social capital through cross-generational and inter-village interactions. In the midst of the challenges of digitalization, kite games remain relevant as a space for social learning, a means of cultural revitalization, and a forum for the formation of new social networks. Thus, the traditional game of kite can be seen as a cultural practice that contributes to strengthening social capital and community cohesion in the contemporary era.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Aisah, S. (2015). Nilai-nilai Sosial Yang Terkandung Dalam Cerita Rakyat “Ence Sulaiman” Pada Masyarakat Tomia. Jurnal Humanika, 3(15), 1–19.

ANTARA Lampung. (2023). Lomba Layang-Layang II di Lampung Selatan Sukses Digelar. Lampung Antara News.

Aziza, N. (2020). Jenis dan Pendekatan Penelitian Penelitian. Metode Penelitian Kualitatif, 17, 45–54.

Danandjaja, J. (2014). Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Permainan Rakyat (Cetakan Ke-9). Jakarta: Grafiti. (Catatan: Masukkan buku master folklor ini jika diperlukan untuk memperkuat basis definisi permainan rakyat).

Fadilah, A. (2023). Transmisi Intergenerasional Permainan Tradisional dalam Merawat Kohesi Sosial Masyarakat Urban. Jurnal Sosiologi Kontemporer, 11(2), 145-158.

Fatimah, A., & Astuti, S. P. (2020). Istilah dalam Permainan Bekelan di Kota Surakarta : Kajian Antropolinguistik. 15(2), 263–272.

Fitriana, D. (2022). Meningkatkan Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini Melalui Alat Permainan Edukatif (Ape). JCE (Journal of Childhood Education), 5(2), 580. https://doi.org/10.30736/jce.v5i2.726

Lindawati, Y. I. (2019). Faktor-Faktor Penyebab Eksistensi Permainan Tradisional di Desa Nyangkringan. Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika, 5(1), 13. https://doi.org/10.30870/hermeneutika.v5i1.7381

Mundzir, C. (2020). Nilai-nilai Sosial dalam Tradisi Mappanre Temme’ di Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru. Rihlah, I(2), 69–81.

Nugroho, A. (2019). Permainan Tradisional dan Penguatan Modal Sosial Masyarakat. Jurnal Sosiologi Nusantara, 5(1), 45–58.

Nur, M., & Handayani, T. (2021). Konstruksi Ruang Publik Baru dan Resiliensi Permainan Tradisional di Kawasan Pinggiran Kota. Jurnal Analisis Sosial, 25(1), 34-49.

Prasetyo, B. (2022). Modal Sosial dan Solidaritas Mekanis dalam Budaya Permainan Rakyat Komunal. Jurnal Budaya dan Humaniora, 8(3), 201-215.

Priyatna, M. (2016). Permainan tradisional Sebagai Wahana Pendidikan Karakter. Edukasi Islami, 05(1), 1311–1336.

Putnam, R. D. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. New York: Simon & Schuster.

Putra, R. A., & Wijaya, S. (2025). Internalisasi Civic Virtue dan Nilai Sportivitas Melalui Permainan Tradisional Berbasis Kompetisi. Jurnal Pendidikan Karakter, 16(1), 12-27.

Radar Lambar. (2023). Buka Lomba Layang-Layang, Alek Ajak Lestarikan Permainan Tradisional.

Rahman, B. J. (2022). Festival Layang-Layang Internasional Pangandaran sebagai Diplomasi Daerah: Analisis Perbandingan dengan Festival Layang-Layang Internasional Pasir

Ramadhan, F., & Utami, D. P. (2024). Etnomatematika dan Transfer Pengetahuan Tradisional pada Pembuatan Layang-Layang Nusantara. Jurnal Kebudayaan dan Sains, 9(2), 88-102.

Rizky, A., & Saputra, M. (2021). Konsep Motion Graphics Pengenalan Layang-Layang Sebagai Budaya Bangsa. ResearchGate.

Sari, D. A. (2021). Festival Budaya Tradisional sebagai Sarana Revitalisasi Nilai Sosial dan Pariwisata Budaya. Jurnal Kebudayaan Indonesia, 16(2), 112–124.

SINDOnews. (2021). Tradisi Lomba Layang-Layang Tradisional Seusai Panen.

Teras Lampung. (2015). Festival Layang-Layang, Cara Warga Kampung Ramsai Waykanan Cintai Permainan Tradisional.

Teras Lampung. (2015). Pergeseran Lanskap Spasial dan Dampaknya pada Ruang Bermain Anak di Lampung. Arsip Dokumentasi Sosial Budaya Lokal.

Teras Lampung. (2020). Gandeng Pengacara Rakyat, Pedagang Kuliner Deswita Linerrejo Gelar Lomba Layang-Layang.

Teras Lampung. (2020). Komanditisasi Hadiah dan Perubahan Orientasi Nilai Lomba Layang-Layang Rakyat. Laporan Khusus Budaya Kontemporer.

Downloads

Published

2026-06-12

How to Cite

Rahmadani, C. E., & Karsiwan. (2026). Refusing to Be Dim in the Digital Era: Revitalizing Bonding and Bridging Social Capital Through Kite Games in Lampung. Asketik: Jurnal Agama Dan Perubahan Sosial, 10(1), 1–16. https://doi.org/10.30762/asketik.v10i1.2170